March 25, 2008
Zig Ziglar
From time to time, someone gives another individual the ultimate compliment by saying, "You are a class act," or by simply describing a specific behavior, saying, "That’s class." From time to time, a master of ceremonies will introduce an individual by saying, "If you go to the dictionary and look up the word ‘class,’ you will see a picture of your speaker this evening."
A person with class is an individual of integrity — someone you would love to have as a parent, a child, a friend, a neighbor, a mentor or an adviser. In short, class identifies a person who is "top drawer" — one who goes the extra mile by being gracious to everyone who courteously serves him.
I love the description given by Bill Daniels, who said, "Class is something you choose for yourself. It’s competing honestly, confronting problems head-on, taking accolades with grace and humility, and not knocking your competitors. If you have class, you’re loyal to both yourself and to those around you. Class is born out of self-respect and a healthy respect for others. Everything in this world is not always attainable. Fortunately, class is."
Class is the coach who gives every child on the team his turn at bat without regard to the youngster’s ability or the record of the team. I encourage you to identify someone who is a class act and use that person as a role model. The individual might not be rich and famous or even brilliant, but a person of class is one we all can aspire to be. Take the class approach, and I’ll see you at the top!
Pudjo Suprapto
Tianshi ID No.910.74520
March 20, 2008
Ice Cream Murder
A policeman is driving along the road when he gets an urgent message on his radio telling him there has been a dead body found in an ice cream van just down the road.
He rushes to the scene where he discovers a man’s body, with chocolate flakes up each nostril, raspberry sauce all over his head and he is covered from head to toe in hundreds and thousands.
A puzzled onlooker asks the policeman what he thinks has happened, to which the policeman replies:
"It looks like he’s topped himself" 
Innovation is regarded as the soul of the people’s progress. It is also the driving force of the country. A business organization that is not innovative can’t stand tall in the world. I am sure you would feel strange when we mention Tienshi 6 Nets Interation. It is Tienshi Group’s Founder, Mr. Li Jinyuan’s innovative business model created out of his own experience. The model has already become the focus of attention by worldwide economists, entrepreneurs, direct sales leaders and many business entities in mainland China. Some people already regard it as the Tienshi Phenomenon, because it is the first time a private group of companies in China is able to set foot in more than 90 countries in the world in merely 6 years and this is indeed a great business miracle. (more……..)
March 19, 2008
Kepada para New Distributor Tianshi Group Mas_Poedjo
Saya memberikan tantangan (challenge) kepada anda yang memang benar-benar ingin sukses dibisnis ini dan telah menjadi Core Person murni, apabila anda bergabung dan saat ini berperingkat *3 (baca:bintang 3) serta selalu mengikuti support system Unicore (datang kepertemuan, presentasi minimal 15x/bulan, berlangganan NET-P, serta punya alat bantu) , dan mempunyai jaringan dibawah anda *3 dan dilapis kedua *3 dalam jangka waktu maksimal 1 bulan akan kami berikan buku (gratis):
- Berfikir dan berjiwa besar (The Magic of Thinking Big) kar.David J.Schwartz.
- Kepribadian Plus (Personality Plus) kar.Florence Littauer.
Berani menerima tantangan, mari bergabung.
Go Freedom
Pudjo Suprapto (Team Leader)
ID Tianshi No.910.74520
March 18, 2008
Assalamualaikum wr.wb.
Kepada para Networker coba anda simak ayat Al-Quran ini, apabila anda menghadapi kendala terhadap prospect anda, yang meremehkan, melecehkan, bahkan sampai menghina anda karena kebuntuan paradigma serta ketidaktahuannya tentang bisnis Network Marketing Tianshi,
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 134)
Inilah hebatnya para Networker (Pembangun Jaringan) di Network Marketing Tianshi memang dilatih untuk selalu berfikir positip dan jangan pernah negatip, karena bisnis ini sarat dengan nilai-nilai spiritual muatan-muatan positip dan berkaitan dengan hal-hal keagamaan dan peningkatan mutu ibadah. Karena bisnis ini mengandung nilai-nilai spiritual tinggi karena timbulkan dulu keyakinan anda sukses dan lakukan prosesnya karena bisnis ini erat kaitannya dengan pembangunan manusia seutuhnya serta peningkatan kualitas hidup baik dari sisi rohani maupun jasmani. Dan jangan pernah anda marah apabila anda ditolak, dilecehkan, serta disepelekan oleh prospek, karena itulah bagian dari proses. Dan segeralah jadi orang sukses baik spiritual maupun material.
Dan inilah yang kami-kami lakukan, karena seorang Leader harus melakukan baru mengatakan, dan mencontohkan. Oleh karena itu kalau kami bisa kenapa anda tidak bisa?
Take action, just do it.
Kiriman: Pudjo Suprapto
Tianshi ID member No.910.74520
March 9, 2008
Oleh: Paulus Bambang W.S.
Pencerahan segera muncul tatkala Thomas L. Friedman, peraih tiga kali penghargaan Pulitzer Prize, berdiskusi dengan Nandan Nilakani, bos Infosys. Kesimpulannya: “The playing field is being leveled.”. Kalimat sederhana ini rupanya terus berputar di otak kiri dan kanan Tom, begitu orang memanggilnya. Dan, bagi seorang Tom, itu berarti tambahan pendapatan jutaan dolar jika ia mampu menuangkannya dalam bentuk tulisan. Ternyata, beberapa saat kemudian, Tom berhasil. Baginya, kalimat Nandan itu berarti “The playing field is being flattened.”.
Maka, lahirlah buku The World is Flat, yang kini naik daun. (makanya rajin baca buku dunk; kata Mas_Poedjo)
Menurut Friedman, ada tiga tanda utama yang menggerakkan tujuh tanda lainnya—sebuah terobosan yang membuat dunia menjadi sangat datar. Pertama, keruntuhan Tembok Berlin pada 9 November 1989 yang juga simbol keruntuhan sebuah ketertutupan manusia untuk berhubungan dengan sesamanya. Keruntuhan ini bukan soal Barat dan Timur, bukan soal AS dan Rusia, melainkan soal transformasi manusia menuju sebuah dunia yang terbuka lebar tanpa batasan.
Kedua, keruntuhan tembok informasi berkat hadirnya Netscape sebagai perusahaan publik pada 9 Agustus 1995. Netscape, kalau dianalisis dengan metode Jim Collins dalam Good to Great pasti akan gagal, tetapi kalau disoroti dengan Blue Ocean Strategy-nya Prof. W. Chan Kim adalah sebuah terobosan penting. Netscape membobol tembok informasi, yang bak senjata ampuh, menjadikan informasi bagi semua. Internet menjadi kebutuhan dan informasi menjadi sebuah keharusan bagai udara yang tidak perlu membayar.
Ketiga, keruntuhan tembok interaksi antaraplikasi dengan hadirnya konsep workflow yang mampu menjadi bahasa pengantar internasional baru bagi negara aplikasi yang punya pusat pemerintahan tersendiri. Workflow software mampu membuat “your application talk to my application while we have lunch”.
Ketiga flattener ini, menurut Friedman, menjadi dasar tujuh flattener lain, seperti open-sourcing, outsourcing, offshoring, supply-chaining, insourcing, in-forming, dan the steroids, membentuk sebuah dunia yang benar-benar sangat flat, di mana hierarki dan birokrasi menjadi sangat sempit.
Pertanyaannya, bagaimana seorang pemimpin harus menyikapi dunia datar itu dengan membentuk sebuah gaya serta paradigma kepemimpinan yang cocok? Tak seorang pun pemimpin menolak kesimpulan Friedman. Bahkan, tak seorang pun pemimpin berani melawan kesimpulan Friedman dengan tidak menerapkan tiga flattener utama dalam perusahaannya kalau ingin survive dalam kompetisi saat ini. Semua sadar bahwa globalisasi 1.0 yang mengandalkan daya saing negara sudah mulai pupus. Globalisasi 2.0 yang mengunggulkan daya saing perusahaan mulai ragu karena terlibas oleh globalisasi 3.0 yang sangat menekankan daya saing individu untuk muncul sebagai pemenang dalam persaingan di dunia yang datar. Segitiga keunggulan daya saing negara, perusahaan, dan individu, kini mengerucut pada titik pokok kemampuan unggul individu.
Dalam konteks itu, setidaknya ada tiga hal yang harus disikapi oleh para pemimpin agar mampu menciptakan individu karyawan unggul dalam persaingan di globalisasi 3.0.
Pertama, perusahaan harus masuk ke dunia yang datar dengan mempercepat penerapan infrastruktur teknologi yang berbasis internet yang terintegrasi. Investasi untuk membuat perusahaan sejajar dengan perusahaan lain dalam era ini adalah sebuah keharusan. Sepuluh flattener harus dikaji secara mendasar dan dicari¬kan solusi untuk kendala yang ada dan pada saat yang sama mencari peluang yang terbuka lebar di dunia baru yang rata. Tanpa penyamaan level of playing field, perusahaan bak berada di lingkaran Tembok Berlin baru. Misalnya, penyediaan laptop untuk seluruh karyawan bukanlah soal gaya. Laptop adalah alat untuk agar bisa “berperang”. Kebutuhan PDA dengan kemampuan MP3 recording, alat foto, video, internet browser, dan telepon satelit akan jadi alat yang harus dipunyai seorang reporter. Kolaborasi antarkelompok riset, bidang produksi, dan bidang penjualan dari lima benua merupakan kebutuhan yang sama dengan makan nasi bagi orang Indonesia. How flat are you in the flattened world? How low can you go not to be flat? How long does it take for you to go flat?
Kedua, setelah flat, berlanjut ke pertanyaan penting lainnya: How “fast” are you in the flattened world? Kalau dunia sudah datar, hambatan makin berkurang, kecepatan mobil harus setara dengan F1 kalau mau bertanding di tingkat global atau setidaknya setara A1 kalau mau bertarung di tingkat regional. Kecepatan pengembangan kompetensi karyawan, misalnya, menjadi “it’s up to the individual”. Tak ada batasan harus tahu yang ini dahulu baru bisa tahu yang itu. Dalam dunia yang tanpa batas, kompetensi karyawan menjadi tak terbatas. Makin ia mau bergerak, makin cepat ia dewasa. Junior-Senior, Manajer-Supervisor, General Manager-Direktur, Reporter-Pemegang Rubrik, menjadi batasan yang makin sulit ditentukan. Kompetensi akan makin mudah dikejar dan malah dalam banyak hal yang junior akan makin cepat meningkatkan kompetensi karena kemampuan bahasa, daya cerna, dan network mereka yang kian luas. Faktor pembeda hanya satu, yakni pengalaman dan wisdom. Itu pun dalam waktu singkat akan mudah diadopsi.
Ketiga, makin flat dan makin fast akan menuntut pemimpin menjadi makin focus. Produk dan jasa yang ditawarkan harus makin fokus untuk memenuhi kebutuhan pelanggan pada segmen tertentu. Makin fokus, potensi mendunia akan makin cepat dibandingkan dengan makin melebar. Dunia yang flat dan fast menuntut pemimpin mampu mengalokasikan sumber daya dan sumber dana pada hal-hal tertentu yang membuat setiap individu tampil menjadi jawara unggulan. Setiap head count harus unggul dan mempunyai keunggulan. Kalau tidak, sebaiknya di-outsource. Tak ada individu yang berdiri di grey area. McDonald’s menjadi waralaba besar, Chik a Fila menjadi waralaba dengan profit per channel tertinggi, Microsoft dengan market capitalization yang terbesar, Google dengan jasa yang spesifik, eBay dengan komunitas dan teknologi yang tidak lebar, dan Tianshi (Tiens) dengan product kesehatannya, membuktikan bahwa focus akan menjadi andalan di dunia yang datar. How focus are you right now? How many competitors are in your specific products?
Flat, fast, dan focus harus menjadi tiga kata idaman setiap pemimpin. Tanpa itu, organisasi yang dipimpinnya hanya akan menjadi pemain pendamping dan penggembira. Bisa beromzet besar, tetapi tak mampu memberikan impact pada dunia yang datar ini. Tak salah jadi pemain penggembira atau the others dalam peringkat market share. Namun, kalau bisa jadi pemain unggulan, mengapa tidak?
(ya harus dicoba dunk hehehe…...)
Penulis adalah peminat studi kepemimpinan, direktur pemasaran sebuah perusahaan terbuka
Rabu, 22 Maret 2006 09:32 WIB - warta ekonomi.com
March 5, 2008
Manusia dilahirkan di bumi ini dalam keadaan bodoh, tidak mengerti apa-apa. Lalu Allah mengajarkan kepadanya berbagai macam nama dan pengetahuan agar ia bersyukur dan mengabdikan dirinya kepada Allah dengan penuh kesadaran dan pengertian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (An-Nahl: 78)
Pada hakikatnya, semua ilmu makhluk adalah "Ilmu Laduni" artinya ilmu yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Para malaikat-Nya pun berkata:
"Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami." (Al-Baqarah: 32)
Ilmu laduni dalam pengertian umum ini terbagi menjadi dua bagian.
Pertama, ilmu yang didapat tanpa belajar (wahbiy).
Kedua, ilmu yang didapat karena belajar (kasbiy).
Bagian pertama (didapat tanpa belajar) terbagi menjadi dua macam:
1. Ilmu Syar’iat, yaitu ilmu tentang perintah dan larangan Allah yang harus disampaikan kepada para Nabi dan Rasul melalui jalan wahyu (wahyu tasyri’), baik yang langsung dari Allah maupun yang menggunakan perantaraan malaikat Jibril. Jadi semua wahyu yang diterima oleh para nabi semenjak Nabi Adam alaihissalam hingga nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ilmu laduni termasuk yang diterima oleh Nabi Musa dari Nabi Khidlir . Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Khidhir:
"Yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (Al-Kahfi: 65)
Di dalam hadits Imam Al Bukhari, Nabi Khidlir alaihissalam berkata kepada Nabi Musa alaihissalam:
"Sesungguhnya aku berada di atas sebuah ilmu dari ilmu Allah yang telah Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya. Dan engkau (juga) berada di atas ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu yang aku tidak mengetahuinya juga."
Ilmu syari’at ini sifatnya mutlak kebenarannya, wajib dipelajari dan diamalkan oleh setiap mukallaf (baligh dan mukallaf) sampai datang ajal kematiannya.
2. Ilmu Ma’rifat (hakikat), yaitu ilmu tentang sesuatu yang ghaib melalui jalan kasyf (wahyu ilham/terbukanya tabir ghaib) atau ru’ya (mimpi) yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya yang mukmin dan shalih. Ilmu kasyf inilah yang dimaksud dan dikenal dengan julukan "ilmu laduni" di kalangan ahli tasawwuf. Sifat ilmu ini tidak boleh diyakini atau diamalkan manakala menyalahi ilmu syari’at yang sudah termaktub di dalam mushaf Al-Qur’an maupun Kitab-kitab hadits. Menyalahi di sini bisa berbentuk menentang, menambah atau mengurangi.
Adapun bagian kedua yaitu ilmu Allah yang diberikan kepada semua makhluk-Nya melalui jalan kasb (usaha) seperti dari hasil membaca, menulis, mendengar, meneliti, berfikir dan lain sebagainya.
Dari ketiga ilmu ini (syari’at, ma’rifat dan kasb) yang paling utama adalah ilmu yang bersumber dari wahyu yaitu ilmu syari’at, karena ia adalah guru. Ilmu kasyf dan ilmu kasb tidak dianggap apabila menyalahi syari’at. Inilah hakikat pengertian ilmu laduni di dalam Islam.
Comments Off
March 2, 2008
Orang seringkali membicarakan "Impian". Apakah anda mengerti apa arti "Impian" yaitu keinginan yang kuat untuk dicapai dan harus tercapai. Impian tanpa target bisa disebutkan angan-angan, dan inilah adalah kerjaan orang yang sering tidur dan ketiduran. Sama saja anda membaca "AL-QURAN", dan Al-Quran tetap hanya menjadi bacaan tapi anda tidak pernah mengaplikasikan dalam sendi-sendi kehidupan.
Buat Goal Setting dalam hidup anda, sebenarnya mau seperti apa nanti anda kedepan, memang kita tidak dapat merubah arah angin tapi kita dapat merubah arah kehidupan, dengan disertai keyakinan dan apabila tanpa keyakinan, hanya anda berangan-angan. Dan jangan pernah lupa untuk melakukan permohonan kepada Sang Pencipta Insya Allah Dia akan memperkenankan. Sama seperti anda melakukan ibadah untuk mencapai Ridho Tuhan, selalu berbuat kebaikkan dan kebajikan semoga anda melakukannya penuh dengan keimanan dan keikhlasan.
Amien
Comments Off