June 12, 2008
Usai menunaikan ibadah haji, Ibrahim bin Adham berniat ziarah ke mesjidil Aqsa. Untuk bekal di perjalanan, ia membeli 1 kg kurma dari pedagang tua di dekat mesjidil Haram.
Setelah kurma ditimbang dan dibungkus, Ibrahim melihat sebutir kurma tergeletak didekat timbangan. Menyangka kurma itu bagian dari yang ia beli, Ibrahim memungut dan memakannya. Setelah itu ia langsung berangkat menuju Al Aqsa.
4 Bulan kemudian, Ibrahim tiba di Al Aqsa. Seperti biasa, ia suka memilih sebuah tempat beribadah pada sebuah ruangan dibawah kubah Sakhra. Ia shalat dan berdoa khusuk sekali.
Tiba tiba ia mendengar percakapan dua Malaikat tentang dirinya.
"Itu, Ibrahim bin Adham, ahli ibadah yang zuhud dan wara yang doanya selalu dikabulkan ALLAH SWT," kata malaikat yang satu.
"Tetapi sekarang tidak lagi. doanya ditolak karena 4 bulan yg lalu ia memakan sebutir kurma yang jatuh dari meja seorang pedagang tua di dekat mesjidil haram," jawab malaikat yang satu lagi.
Ibrahim bin adham terkejut sekali, ia terhenyak, jadi selama 4 bulan ini ibadahnya, shalatnya, doanya dan mungkin amalan-amalan lainnya tidak diterima oleh ALLAH SWT gara-gara memakan sebutir kurma yang bukan haknya. "Astaghfirullahal adzhim" ibrahim beristighfar.
Ia langsung berkemas untuk berangkat lagi ke Mekkah menemui pedagang tua penjual kurma. Untuk meminta dihalalkan sebutir kurma yang telah ditelannya.
Begitu sampai di Mekkah ia langsung menuju tempat penjual kurma itu, tetapi ia tidak menemukan pedagang tua itu melainkan seorang anak muda. "4 bulan yang lalu saya membeli kurma disini dari seorang pedagang tua. kemana ia sekarang ?" tanya ibrahim.
"Sudah meninggal sebulan yang lalu, saya sekarang meneruskan pekerjaannya berdagang kurma" jawab anak muda itu.
"Innalillahi wa innailaihi roji’un, kalau begitu kepada siapa saya meminta penghalalan ?". Lantas ibrahim menceritakan peristiwa yg dialaminya, anak muda itu mendengarkan penuh minat. "Nah, begitulah" kata ibrahim setelah bercerita, "Engkau sebagai ahli waris orangtua itu, maukah engkau menghalalkan sebutir kurma milik ayahmu yang terlanjur ku makan tanpa izinnya?".
"Bagi saya tidak masalah. Insya ALLAH saya halalkan. Tapi entah dengan saudara-saudara saya yang jumlahnya 11 orang. Saya tidak berani mengatas nama kan mereka karena mereka mempunyai hak waris sama dengan saya."
"Dimana alamat saudara-saudaramu ? biar saya temui mereka satu persatu."
Setelah menerima alamat, ibrahim bin adham pergi menemui. Biar berjauhan, akhirnya selesai juga. Semua setuju menghalakan sebutir kurma milik ayah mereka yang termakan oleh ibrahim.
Empat bulan kemudian, Ibrahim bin adham sudah berada dibawah kubah Sakhra. Tiba tiba ia mendengar dua malaikat yang dulu terdengar lagi bercakap cakap. "Itulah ibrahim bin adham yang doanya tertolak gara gara makan sebutir kurma milik orang lain."
"O, tidak.., sekarang doanya sudah makbul lagi, ia telah mendapat penghalalan dari ahli waris pemilik kurma itu. Diri dan jiwa Ibrahim kini telah bersih kembali dari kotoran sebutir kurma yang haram karena masih milik orang lain. Sekarang ia sudah bebas."
"Oleh sebab itu berhati-hatilah dengan makanan yang masuk ke tubuh kita, sudah halalkah? lebih baik tinggalkan bila ragu-ragu…
Wassalamualaikum Wr Wb.,
April 17, 2008
Dengan langkah gontai dan lemas, Mulyadi keluar dari kantor sebuah bank yang terletak di Jalan Diponegoro Jakarta Pusat, Jumat sore di bulan September 2006. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Pihak bank memintanya untuk kooperatif, karena Senin atau Selasa, kantor pelelangan akan menyita seluruh asetnya yang dijaminkan ke Bank.
‘’Jumat itu, saya diminta pihak bank untuk segera kooperatif atas kedatangan kantor pelelangan bahwa Senin atau Selasa akan datang untuk menyita asset saya. Kantor pelelangan tersebut akan mencoba menyelesaikan masalah saya dengan konsep dilelang,'’ tutur Mulyadi mengawali kisahnya kepada Koran Republika akhir pekan lalu.
Selain bekerja di suatu perusahaan, suami dari Nurasiah Jamil ini membuka usaha sendiri. Posisi terakhir yang dijabatnya adalah Direktur Utama PT Zebra Nusantara TBk, perusahaan transportasi terbesar di kota Surabaya. ‘’Dari kesulitan-kesulitan makro berimbas kepada kesulitan termasuk perusahaan yang saya kelola. Akumulasi kesulitan itu berakibat terhadap terancamnya aset-aset yang saya miliki, ujarnya. Nilai aset itu hampir Rp 2 miliar, dan akumulasi utang hampir Rp 3 miliar.
Dan, untuk kali pertama dalam hidupnya, pria kelahiran Bogor 2 November 1970 yang pernah menjabat Direktur Utama PT Steady Safe Tbk ini menggunakan kendaraan umum untuk mengantarkannya ke tempat tujuan. Jujur saja, selama ini Mulyadi ke mana pun selalu menggunakan sopir. ‘’Akhirnya saya naik Busway karena itu kendaraan yang saya lihat berlalu lalang. Pertama kali saya naik bis ya itu dari depan hotel Mandarin menuju Al Azhar. Saya shalat Maghrib di situ saya lihat dan mendengar publikasi dari pengurus masjid tentang adanya tausiah.'’
Ia pun beriktikaf di Masjid Agung Al Azhar hingga waktu Isya tiba. Setelah shalat Isya berjamaah Mulyadi mengikuti pengajian yang malam itu menampilkan dai muda Ustadz Yusuf Mansur sebagai penceramah. ‘’Saya terkejut, ketika dalam tausiyah mengatakan, ‘Mungkin di antara jamaah yang hadir di sini adalah orang yang tidak sama sekali berniat untuk datang ke Al Azhar bahkan mendengarkan tausiyah dari saya. Tapi, jamaah tersebut saat ini sedang dilanda kesulitan yang luar biasa’,'’ ungkap Mulyadi menirukan.
Intinya, sang ustadz mengatakan bagaimana cara mengatasi kesulitan dan mengharapkan pertolongan Allah. Caranya adalah dengan bersedekah, dan lebih utma adalah benda yang paling dicintainya.
Tanpa pikir panjang, Mulyadi pun mengikhlaskan jam tangan merek Bvlgari yang melingkar di tangannya seharga 3.000 dolar AS untuk disedekahkan. ‘’Waktu itu, yang paling berharga hanya jam tangan karena di dompet hanya ada uang Rp 110 ribu. ATM saldonya sudah sangat minimum, Kartu Kridit sudah over limit. Waktu itu saya pikir kalau saya sedekahkan Rp 100 ribu uang saya tinggal Rp 10 ribu.
Sejenak ada rasa berat. Jam tangan itu memang tipe jam yang diidam-idamkannya dari dulu. Namun ia segera menepisnya. Saat dilelang, jam itu dibeli seorang jamaah seharga Rp 200 ribu.
Ia merasa enteng sepulang dari masjid. Ia mengaku berada di puncak kepasrahan tertinggi selama hidupnya. Ia siap untuk menerima keputusan apapun, termasuk hilangnya semua aset yang dimilikinya.
Tak lama kemudian, teleponnya berdering. Jauh sebelum krisis mendera dirinya, ia pernah mengajukan sebuah proposal proyek kepada sebuah lembaga. Suara telepon di seberang sana menanyakan proposalnya dulu, apakah berminat untuk meneruskan atau tidak. Allah menggerakkan hatinya untuk mengakomodasi proposal saya, kisahnya penuh suka cita.
Senin, hanya berselang dua hari setelah mensedekahkan jam Bvlgari-nya, Mulyadi diminta datang ke kantor rekannya bersamaan dengan rencana eksekusi lelang. Mereka sepakat bekerja sama.
Tak sampai seminggu, ia sudah meneken surat perjanjian kerja sama. Uang muka honorarium segera dikirim ke rekening, begitu kata mereka. Di hari batas terakhir ia harus melunasi hutangnya, ia pergi ke bank. Subhanallah, sudah ada jumlah uang yang sangat-sangat cukup untuk menyelesaikan semua kewajiban saya,ia berkisah dengan mata berbinar.
Ia tak akan pernah melupakan kisah itu. ‘’Inilah pengalaman batin yang paling berkesan sepanjang hidup saya. Apa yang kita sangka, tak selalu seperti itu yang Allah kehendaki.
Ia pun teringat, boleh jadi, keajaiban itu datang karena sebelumnya ia berikhtiar, berdoa tanpa putus, ibadah puasa Senin-Kamis, shalat dhuha setiap hari, iktikaf di masjid, dan selalu mendoakan orang tua.
Drs H Mulyadi MMA
Tanggal Lahir : Bogor 2 November 1970
Istri : Nurasiah Jamil
Anak-anak :
Nurfajrina Sabila Putri Mulyadi
Muhammad Sultan Ramadhan Putra Mulyadi
Nursabrina Saskia Putri Mulyadi
Pendidikan :
Sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpar Bandung 1995
Pascasarjana Program Magister Management Agribisnis IPB 2004
Pekerjaan :
Direktur PT Infiniti Finance 1999-2003
Komisaris PT Steady Safe Tbk 1999-2003
Direktur Utama PT Steady Safe Tbk 2000-2001
Direktur Utama PT Zebra Nusantara Tbk 2003-Juni 2006
Ketua Bidang Transfortasi dan Telekomunikasi DPP HIPPI 2004-sekarang
April 2, 2008
Bahwa hati lebih luas daripada ampunan Allah adalah suatu kenyataan yang menakjubkan dan sesuatu yang harus direnungkan. Jika seseorang benar-benar memahami hal ini, dia seharusnya memanfaatkan apa saja dari pemahaman ini yang layak dimanfaatkan.
Seseorang harus mengetahui bahwa hati memiliki lima aspek, yaitu:
- Aspek yang berhadapan langsung dengan Allah dan tidak ada perantara antara keduanya.
- Aspek yang berada dekat dengan alam ruh, yang darinya hati menerima sesuatu dari Tuhannya sehingga dia mampu menerima sesuatu melalui ruh
- Aspek yang merupakan bagian utama alam pikiran, yang memberikan keuntungan sampai kepada perkembangan yang berhubungan dengan Konsentrasi (jam’) dan berkenaan dengan keseimbangan jasmaninya, karaktemya dan anjuran dari keadaan-keadaannya dalam kekuasaan, keberadaan dan hikmah-nya;
- Aspek yang berada pada tingkat alam yang terlihat, merupakan bagian penting Nama-nama Allah, az-Zahir dan al-Akhir
- Aspek yang meliputi semua hal (jami’), yang merupakan bagian utama pada Keesaan Konsentrasi (ahadiyat al-jam), merupakan derajat yang berada satu tingkat di bawah derajat Ketuhanan (huwiyah) dan ditandai dengan sifat keunggulan, keterakhiran, kejasmanian dan kerohanian.
Setiap aspek memiliki ruang perwujudan dalam kehidupan manusia. Bentuk hati dalam konsentrasi dan wujudnya adalah Rasulullah, karena perkembangan jiwanya merupakan titik pusat lingkaran eksistensi. Kelima aspek Rasulullah berhubungan dengan setiap alam, wilayah atau derajatnya, yang berkaitan dengan perintah-perintah dan diwujudkan dengan karakter masing masing seperti yang diperlihatkan di atas.
Jenis jenis Hati
Rasulullah menyatakan, "Ada empat jenis hati, yaitu: hati yang bersih dan bercahaya yang di dalamnya bagaikan ada sebuah lampu yang menerangi, inilah hati orang-orang yang beriman; hati yang hitam dan sesat, adalah hati orang-orang yang ingkar; hati yang menggantung, yang melayang-layang antara keingkaran dan keimanan, merupakan hati munafik; dan hati yang bermuka dua, dengan satu wajah mengarah pada keimanan dan wajah yang lain mengarah kepada keingkaran. Keimanannya didukung oleh alam kesucian dan kesalehan, bagaikan sebuah tanaman yang dibersihkan dengan bantuan air, sedangkan keingkarannya didukung oleh alam kejahatan, bagaikan sebuah borok yang diperparah dengan luka bernanah. Akhimya, apa pun yang mendominasi dia akan mengendalikannya.”
Perbedaan antara keempat jenis hati ini terjadi karena hati merupakan produk dari ruh dan nafs, dan mendapat tarikan dari keduanya. Ruh ingin menarik nafs ke dalam lingkungannya dan begitu juga sebaliknya, dan keduanya senantiasa terlibat dalam peperangan. Kadang-kadang ruh mendominasi, yang membawa nafs keluar dari tempatnya yang rendah menuju ke tingkat perkembangan ruh yang lebih tinggi. Kadang-kadang nafs memenangkannya, yang membawa ruh jatuh dari ketinggian kesempurnaan menuju kepada kesalahan yang dalam. Hati selalu mengikuti bagian yang dominan sampai otonomi kehidupan seseorang digerakkan dalam salah satu tadi atau oleh yang lain, yang kemudian hati akan mendiaminya.
Situasi situasi itu melibatkan peralihan yang teratur antara kebahagiaan dan kesengsaraan. Jika kebahagian ukhrawi dan kepuasan azali tiba, ruh menjadi kuat dan mengalahkan nafs serta balatentaranya, dan terbebas dari pergulatan tersebut. Ruh naik dari titik ciptaan yang rendah menuju ke titik Keabadian yang tinggi, beralih menjauhi nafs dan hati menuju pada kesaksian (musyahadah) terhadap wilayah Yang Mahakuasa. Selain itu, hati dalam mengikuti perkembangannya dari tingkat perkembangan hati, yang padanya perubahan (taqallub) merupakan suatu keharusan, menuju ke tingkat perkembangan ruh dan mendiami tempat ruh berada, bagaikan seorang anak kecil yang mengikuti ayahnya.
Nafs, yang juga mengikuti hati seperti seorang anak kecil, muncul dari tempat dia berada, alam sifat-sifat kebendaan, dan mengikuti perkembangan hati. Hati yang seperti itu adalah hati orang orang beriman yang baginya tak ada lagi unsur unsur politeisme atau kekafiran. Allah melarang, jika situasi bertolak belakang dengan hal tadi, pengaruh-pengaruh penderitaan dan kesengsaraan azali didapatkan, yang bisa membuat ruh tersesat dan hanya akan memperkuat nafs. Hati akan menggerakkan ruh kepada alamnya sendiri; ruh akan turun dari tingkat perkembangannya ke tingkat perkembangan hati, hati akan berkembang dari tingkat perkembangannya ke wilayah nafs; dan nafs akan turun dan mengakar di dalam lingkungan sifat kebendaan. Hati yang seperti ini menjadi hati orang yang ingkar, yaitu orang yang sesat, yang tenggelam ke dalam gelapnya kekafiran. Jika tak ada bantuan dan tarikan sebagaimana adanya, dan dengan nafs yang kuat, hati akan terombang-ambing di tengah, tetapi lebih cenderung ke arah nafs. Inilah hati orang yang bersikap munafik. Jika ruh lebih kuat, atau jika tarikan dari ruh dan nafs sama, maka hati lebih cenderung ke arah ruh, atau bersikap netral berkenaan dengan kedua bagian itu, dan keimanan serta keingkaran tetap ada di dalanmya. Inilah hati yang bermuka dua, orang yang memiliki keimanan dan di sisi lain juga bersikap munafik.
Hatim Assam berkata, "Hati terdiri dari lima jenis, yaitu hati yang mati, hati yang sakit, hati yang lalai, hati yang tertutup dan hati yang bersih. Hati yang mati adalah hati yang ingkar, hati yang sakit adaIah hati yang senantiasa berbuat dosa, hati yang lalai adalah hati yang gagal, dan hati yang tertutup adalah hati orang orang yang senantiasa berbuat kejahatan: ‘Mereka berkata: Hati kami tertutup’ (11: 88), dan hati yang bersih adalah hati yang sadar dalam tindakan-tindakannya, disibukkan dengan ketaatan dan ketakutan terhadap Sang Raja Yang Mahakuasa."
Sari Saqati berkata, "Lidahmu adalah penyambung dari hatimu, dan wajahmu adalah cerminan darinya. Pada wajahmu ditemukan apa yang ada di dalam hatimu."
Ia juga berkata, "Ada tiga jenis hati, yaitu: hati seperti gunung yang tidak dapat bergerak; hati seperti pohon yang tertanam pada akarnya tetapi dapat bergoyang ke mana-mana karena angin; dan hati seperti seekor burung yang terbang ke mana saja yang dia inginkan".
Selanjutnya ia mengatakan,
" Hati orang yang berbudi berhubungan dengan ketegasan dan kedekatan pada Allah menuju pada kedudukan yang tinggi."
Inilah yang dikatakan bahwa kebaikan dari orang-orang yang berbakti adalah pegangan bagi kedekatan, dalam hal ini kebaikan menjadi pegangan apabila seseorang mendapatkan kepuasan melalui kebaikan tersebut, dan apa pun yang memberikan kepuasan diri akan menghambat perkembangan hati.
Orang-orang yang berbakti adalah mereka yang telah menempatkan dirinya di dalam surga, sebagaimana yang diperlihatkan dalam Al-Qur’an, Sesungguhnya orang-orang yang banyak berbakti benar-benar berada dalam surga yang penuh kenikmatan." (LXXXII: 13). Oleh karena itu hatinya akan berhubungan dengan tujuan akhir. Sebaliknya, pandangan orang yang maju, mereka yang dekat kepada Allah, terpusat pada yang azali, yang tidak akan pernah menempatkan dirinya pada apa apa yang dapat mereka raih. Oleh sebab itu, karena tidak menempatkan dirinya pada apa pun, mereka akan tertarik ke dalam surga.
Karangan :
Dr. Javad Nurbakhsy
Ditulis kembali oleh :
Pudjo Suprapto ID Tianshi No: 910.74520
(untuk peningkatan nilai spiritual para member):
Comments Off
March 18, 2008
Assalamualaikum wr.wb.
Kepada para Networker coba anda simak ayat Al-Quran ini, apabila anda menghadapi kendala terhadap prospect anda, yang meremehkan, melecehkan, bahkan sampai menghina anda karena kebuntuan paradigma serta ketidaktahuannya tentang bisnis Network Marketing Tianshi,
وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ
“dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Ali Imran: 134)
Inilah hebatnya para Networker (Pembangun Jaringan) di Network Marketing Tianshi memang dilatih untuk selalu berfikir positip dan jangan pernah negatip, karena bisnis ini sarat dengan nilai-nilai spiritual muatan-muatan positip dan berkaitan dengan hal-hal keagamaan dan peningkatan mutu ibadah. Karena bisnis ini mengandung nilai-nilai spiritual tinggi karena timbulkan dulu keyakinan anda sukses dan lakukan prosesnya karena bisnis ini erat kaitannya dengan pembangunan manusia seutuhnya serta peningkatan kualitas hidup baik dari sisi rohani maupun jasmani. Dan jangan pernah anda marah apabila anda ditolak, dilecehkan, serta disepelekan oleh prospek, karena itulah bagian dari proses. Dan segeralah jadi orang sukses baik spiritual maupun material.
Dan inilah yang kami-kami lakukan, karena seorang Leader harus melakukan baru mengatakan, dan mencontohkan. Oleh karena itu kalau kami bisa kenapa anda tidak bisa?
Take action, just do it.
Kiriman: Pudjo Suprapto
Tianshi ID member No.910.74520
March 5, 2008
Manusia dilahirkan di bumi ini dalam keadaan bodoh, tidak mengerti apa-apa. Lalu Allah mengajarkan kepadanya berbagai macam nama dan pengetahuan agar ia bersyukur dan mengabdikan dirinya kepada Allah dengan penuh kesadaran dan pengertian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
"Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur." (An-Nahl: 78)
Pada hakikatnya, semua ilmu makhluk adalah "Ilmu Laduni" artinya ilmu yang berasal dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Para malaikat-Nya pun berkata:
"Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami." (Al-Baqarah: 32)
Ilmu laduni dalam pengertian umum ini terbagi menjadi dua bagian.
Pertama, ilmu yang didapat tanpa belajar (wahbiy).
Kedua, ilmu yang didapat karena belajar (kasbiy).
Bagian pertama (didapat tanpa belajar) terbagi menjadi dua macam:
1. Ilmu Syar’iat, yaitu ilmu tentang perintah dan larangan Allah yang harus disampaikan kepada para Nabi dan Rasul melalui jalan wahyu (wahyu tasyri’), baik yang langsung dari Allah maupun yang menggunakan perantaraan malaikat Jibril. Jadi semua wahyu yang diterima oleh para nabi semenjak Nabi Adam alaihissalam hingga nabi kita Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ilmu laduni termasuk yang diterima oleh Nabi Musa dari Nabi Khidlir . Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman tentang Khidhir:
"Yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami." (Al-Kahfi: 65)
Di dalam hadits Imam Al Bukhari, Nabi Khidlir alaihissalam berkata kepada Nabi Musa alaihissalam:
"Sesungguhnya aku berada di atas sebuah ilmu dari ilmu Allah yang telah Dia ajarkan kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya. Dan engkau (juga) berada di atas ilmu dari ilmu Allah yang Dia ajarkan kepadamu yang aku tidak mengetahuinya juga."
Ilmu syari’at ini sifatnya mutlak kebenarannya, wajib dipelajari dan diamalkan oleh setiap mukallaf (baligh dan mukallaf) sampai datang ajal kematiannya.
2. Ilmu Ma’rifat (hakikat), yaitu ilmu tentang sesuatu yang ghaib melalui jalan kasyf (wahyu ilham/terbukanya tabir ghaib) atau ru’ya (mimpi) yang diberikan oleh Allah kepada hamba-hambaNya yang mukmin dan shalih. Ilmu kasyf inilah yang dimaksud dan dikenal dengan julukan "ilmu laduni" di kalangan ahli tasawwuf. Sifat ilmu ini tidak boleh diyakini atau diamalkan manakala menyalahi ilmu syari’at yang sudah termaktub di dalam mushaf Al-Qur’an maupun Kitab-kitab hadits. Menyalahi di sini bisa berbentuk menentang, menambah atau mengurangi.
Adapun bagian kedua yaitu ilmu Allah yang diberikan kepada semua makhluk-Nya melalui jalan kasb (usaha) seperti dari hasil membaca, menulis, mendengar, meneliti, berfikir dan lain sebagainya.
Dari ketiga ilmu ini (syari’at, ma’rifat dan kasb) yang paling utama adalah ilmu yang bersumber dari wahyu yaitu ilmu syari’at, karena ia adalah guru. Ilmu kasyf dan ilmu kasb tidak dianggap apabila menyalahi syari’at. Inilah hakikat pengertian ilmu laduni di dalam Islam.
Comments Off