August 2, 2008
Apa yang ada didalam benak anda apabila ada penawaran bisnis "membangun jaringan" atau MLM, dengan janji dapat penghasilan jutaan, bahkan puluhan juta, atau milyaran seperti Leader-Leader besar Tianshi yang lakukan.
Saran saya sebagai upline anda lakukan dengan pembuktian, biar anda dikemudian hari atau jauh kedepan hidup anda tidak akan berantakan dan pekerjaan yang anda lakukan sebelumnya menjadi tidak tersia-sia kan, TIANSHI dengan support sistemnya beserta leader-leader yang telah lebih dahulu menjalankannya. Ini kiriman foto-fotonya "Leader Tianshi dengan Bapak KH.Hashim sebagai ketua PBNU" telah datang melakukan pembuktian ke Pabriknya serta Pusat kegiatan TIANSHI di Tianjin China.
Jadi apalagi yang anda ragukan, karena Leader Tianshi melakukan, mencotohkan, membuktikkan baru mengatakan kepada anda karena telah melakukan pembuktian. Kalau anda tidak melakukan pembuktian apa yang anda harapkan untuk ikut bisnis "pembangun jaringan" seorang Leader harus dapat dipercaya oleh jaringannya "trusty" karena Leader sejati harus jujur, tulus, dan terbuka.
Go Diamond
Ditulis kembali:
Oleh Retno Idajati ID Tianshi No.910.87885
April 17, 2008
Dengan langkah gontai dan lemas, Mulyadi keluar dari kantor sebuah bank yang terletak di Jalan Diponegoro Jakarta Pusat, Jumat sore di bulan September 2006. Ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Pihak bank memintanya untuk kooperatif, karena Senin atau Selasa, kantor pelelangan akan menyita seluruh asetnya yang dijaminkan ke Bank.
‘’Jumat itu, saya diminta pihak bank untuk segera kooperatif atas kedatangan kantor pelelangan bahwa Senin atau Selasa akan datang untuk menyita asset saya. Kantor pelelangan tersebut akan mencoba menyelesaikan masalah saya dengan konsep dilelang,'’ tutur Mulyadi mengawali kisahnya kepada Koran Republika akhir pekan lalu.
Selain bekerja di suatu perusahaan, suami dari Nurasiah Jamil ini membuka usaha sendiri. Posisi terakhir yang dijabatnya adalah Direktur Utama PT Zebra Nusantara TBk, perusahaan transportasi terbesar di kota Surabaya. ‘’Dari kesulitan-kesulitan makro berimbas kepada kesulitan termasuk perusahaan yang saya kelola. Akumulasi kesulitan itu berakibat terhadap terancamnya aset-aset yang saya miliki, ujarnya. Nilai aset itu hampir Rp 2 miliar, dan akumulasi utang hampir Rp 3 miliar.
Dan, untuk kali pertama dalam hidupnya, pria kelahiran Bogor 2 November 1970 yang pernah menjabat Direktur Utama PT Steady Safe Tbk ini menggunakan kendaraan umum untuk mengantarkannya ke tempat tujuan. Jujur saja, selama ini Mulyadi ke mana pun selalu menggunakan sopir. ‘’Akhirnya saya naik Busway karena itu kendaraan yang saya lihat berlalu lalang. Pertama kali saya naik bis ya itu dari depan hotel Mandarin menuju Al Azhar. Saya shalat Maghrib di situ saya lihat dan mendengar publikasi dari pengurus masjid tentang adanya tausiah.'’
Ia pun beriktikaf di Masjid Agung Al Azhar hingga waktu Isya tiba. Setelah shalat Isya berjamaah Mulyadi mengikuti pengajian yang malam itu menampilkan dai muda Ustadz Yusuf Mansur sebagai penceramah. ‘’Saya terkejut, ketika dalam tausiyah mengatakan, ‘Mungkin di antara jamaah yang hadir di sini adalah orang yang tidak sama sekali berniat untuk datang ke Al Azhar bahkan mendengarkan tausiyah dari saya. Tapi, jamaah tersebut saat ini sedang dilanda kesulitan yang luar biasa’,'’ ungkap Mulyadi menirukan.
Intinya, sang ustadz mengatakan bagaimana cara mengatasi kesulitan dan mengharapkan pertolongan Allah. Caranya adalah dengan bersedekah, dan lebih utma adalah benda yang paling dicintainya.
Tanpa pikir panjang, Mulyadi pun mengikhlaskan jam tangan merek Bvlgari yang melingkar di tangannya seharga 3.000 dolar AS untuk disedekahkan. ‘’Waktu itu, yang paling berharga hanya jam tangan karena di dompet hanya ada uang Rp 110 ribu. ATM saldonya sudah sangat minimum, Kartu Kridit sudah over limit. Waktu itu saya pikir kalau saya sedekahkan Rp 100 ribu uang saya tinggal Rp 10 ribu.
Sejenak ada rasa berat. Jam tangan itu memang tipe jam yang diidam-idamkannya dari dulu. Namun ia segera menepisnya. Saat dilelang, jam itu dibeli seorang jamaah seharga Rp 200 ribu.
Ia merasa enteng sepulang dari masjid. Ia mengaku berada di puncak kepasrahan tertinggi selama hidupnya. Ia siap untuk menerima keputusan apapun, termasuk hilangnya semua aset yang dimilikinya.
Tak lama kemudian, teleponnya berdering. Jauh sebelum krisis mendera dirinya, ia pernah mengajukan sebuah proposal proyek kepada sebuah lembaga. Suara telepon di seberang sana menanyakan proposalnya dulu, apakah berminat untuk meneruskan atau tidak. Allah menggerakkan hatinya untuk mengakomodasi proposal saya, kisahnya penuh suka cita.
Senin, hanya berselang dua hari setelah mensedekahkan jam Bvlgari-nya, Mulyadi diminta datang ke kantor rekannya bersamaan dengan rencana eksekusi lelang. Mereka sepakat bekerja sama.
Tak sampai seminggu, ia sudah meneken surat perjanjian kerja sama. Uang muka honorarium segera dikirim ke rekening, begitu kata mereka. Di hari batas terakhir ia harus melunasi hutangnya, ia pergi ke bank. Subhanallah, sudah ada jumlah uang yang sangat-sangat cukup untuk menyelesaikan semua kewajiban saya,ia berkisah dengan mata berbinar.
Ia tak akan pernah melupakan kisah itu. ‘’Inilah pengalaman batin yang paling berkesan sepanjang hidup saya. Apa yang kita sangka, tak selalu seperti itu yang Allah kehendaki.
Ia pun teringat, boleh jadi, keajaiban itu datang karena sebelumnya ia berikhtiar, berdoa tanpa putus, ibadah puasa Senin-Kamis, shalat dhuha setiap hari, iktikaf di masjid, dan selalu mendoakan orang tua.
Drs H Mulyadi MMA
Tanggal Lahir : Bogor 2 November 1970
Istri : Nurasiah Jamil
Anak-anak :
Nurfajrina Sabila Putri Mulyadi
Muhammad Sultan Ramadhan Putra Mulyadi
Nursabrina Saskia Putri Mulyadi
Pendidikan :
Sarjana Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Unpar Bandung 1995
Pascasarjana Program Magister Management Agribisnis IPB 2004
Pekerjaan :
Direktur PT Infiniti Finance 1999-2003
Komisaris PT Steady Safe Tbk 1999-2003
Direktur Utama PT Steady Safe Tbk 2000-2001
Direktur Utama PT Zebra Nusantara Tbk 2003-Juni 2006
Ketua Bidang Transfortasi dan Telekomunikasi DPP HIPPI 2004-sekarang
March 9, 2008
Oleh: Paulus Bambang W.S.
Pencerahan segera muncul tatkala Thomas L. Friedman, peraih tiga kali penghargaan Pulitzer Prize, berdiskusi dengan Nandan Nilakani, bos Infosys. Kesimpulannya: “The playing field is being leveled.”. Kalimat sederhana ini rupanya terus berputar di otak kiri dan kanan Tom, begitu orang memanggilnya. Dan, bagi seorang Tom, itu berarti tambahan pendapatan jutaan dolar jika ia mampu menuangkannya dalam bentuk tulisan. Ternyata, beberapa saat kemudian, Tom berhasil. Baginya, kalimat Nandan itu berarti “The playing field is being flattened.”.
Maka, lahirlah buku The World is Flat, yang kini naik daun. (makanya rajin baca buku dunk; kata Mas_Poedjo)
Menurut Friedman, ada tiga tanda utama yang menggerakkan tujuh tanda lainnya—sebuah terobosan yang membuat dunia menjadi sangat datar. Pertama, keruntuhan Tembok Berlin pada 9 November 1989 yang juga simbol keruntuhan sebuah ketertutupan manusia untuk berhubungan dengan sesamanya. Keruntuhan ini bukan soal Barat dan Timur, bukan soal AS dan Rusia, melainkan soal transformasi manusia menuju sebuah dunia yang terbuka lebar tanpa batasan.
Kedua, keruntuhan tembok informasi berkat hadirnya Netscape sebagai perusahaan publik pada 9 Agustus 1995. Netscape, kalau dianalisis dengan metode Jim Collins dalam Good to Great pasti akan gagal, tetapi kalau disoroti dengan Blue Ocean Strategy-nya Prof. W. Chan Kim adalah sebuah terobosan penting. Netscape membobol tembok informasi, yang bak senjata ampuh, menjadikan informasi bagi semua. Internet menjadi kebutuhan dan informasi menjadi sebuah keharusan bagai udara yang tidak perlu membayar.
Ketiga, keruntuhan tembok interaksi antaraplikasi dengan hadirnya konsep workflow yang mampu menjadi bahasa pengantar internasional baru bagi negara aplikasi yang punya pusat pemerintahan tersendiri. Workflow software mampu membuat “your application talk to my application while we have lunch”.
Ketiga flattener ini, menurut Friedman, menjadi dasar tujuh flattener lain, seperti open-sourcing, outsourcing, offshoring, supply-chaining, insourcing, in-forming, dan the steroids, membentuk sebuah dunia yang benar-benar sangat flat, di mana hierarki dan birokrasi menjadi sangat sempit.
Pertanyaannya, bagaimana seorang pemimpin harus menyikapi dunia datar itu dengan membentuk sebuah gaya serta paradigma kepemimpinan yang cocok? Tak seorang pun pemimpin menolak kesimpulan Friedman. Bahkan, tak seorang pun pemimpin berani melawan kesimpulan Friedman dengan tidak menerapkan tiga flattener utama dalam perusahaannya kalau ingin survive dalam kompetisi saat ini. Semua sadar bahwa globalisasi 1.0 yang mengandalkan daya saing negara sudah mulai pupus. Globalisasi 2.0 yang mengunggulkan daya saing perusahaan mulai ragu karena terlibas oleh globalisasi 3.0 yang sangat menekankan daya saing individu untuk muncul sebagai pemenang dalam persaingan di dunia yang datar. Segitiga keunggulan daya saing negara, perusahaan, dan individu, kini mengerucut pada titik pokok kemampuan unggul individu.
Dalam konteks itu, setidaknya ada tiga hal yang harus disikapi oleh para pemimpin agar mampu menciptakan individu karyawan unggul dalam persaingan di globalisasi 3.0.
Pertama, perusahaan harus masuk ke dunia yang datar dengan mempercepat penerapan infrastruktur teknologi yang berbasis internet yang terintegrasi. Investasi untuk membuat perusahaan sejajar dengan perusahaan lain dalam era ini adalah sebuah keharusan. Sepuluh flattener harus dikaji secara mendasar dan dicari¬kan solusi untuk kendala yang ada dan pada saat yang sama mencari peluang yang terbuka lebar di dunia baru yang rata. Tanpa penyamaan level of playing field, perusahaan bak berada di lingkaran Tembok Berlin baru. Misalnya, penyediaan laptop untuk seluruh karyawan bukanlah soal gaya. Laptop adalah alat untuk agar bisa “berperang”. Kebutuhan PDA dengan kemampuan MP3 recording, alat foto, video, internet browser, dan telepon satelit akan jadi alat yang harus dipunyai seorang reporter. Kolaborasi antarkelompok riset, bidang produksi, dan bidang penjualan dari lima benua merupakan kebutuhan yang sama dengan makan nasi bagi orang Indonesia. How flat are you in the flattened world? How low can you go not to be flat? How long does it take for you to go flat?
Kedua, setelah flat, berlanjut ke pertanyaan penting lainnya: How “fast” are you in the flattened world? Kalau dunia sudah datar, hambatan makin berkurang, kecepatan mobil harus setara dengan F1 kalau mau bertanding di tingkat global atau setidaknya setara A1 kalau mau bertarung di tingkat regional. Kecepatan pengembangan kompetensi karyawan, misalnya, menjadi “it’s up to the individual”. Tak ada batasan harus tahu yang ini dahulu baru bisa tahu yang itu. Dalam dunia yang tanpa batas, kompetensi karyawan menjadi tak terbatas. Makin ia mau bergerak, makin cepat ia dewasa. Junior-Senior, Manajer-Supervisor, General Manager-Direktur, Reporter-Pemegang Rubrik, menjadi batasan yang makin sulit ditentukan. Kompetensi akan makin mudah dikejar dan malah dalam banyak hal yang junior akan makin cepat meningkatkan kompetensi karena kemampuan bahasa, daya cerna, dan network mereka yang kian luas. Faktor pembeda hanya satu, yakni pengalaman dan wisdom. Itu pun dalam waktu singkat akan mudah diadopsi.
Ketiga, makin flat dan makin fast akan menuntut pemimpin menjadi makin focus. Produk dan jasa yang ditawarkan harus makin fokus untuk memenuhi kebutuhan pelanggan pada segmen tertentu. Makin fokus, potensi mendunia akan makin cepat dibandingkan dengan makin melebar. Dunia yang flat dan fast menuntut pemimpin mampu mengalokasikan sumber daya dan sumber dana pada hal-hal tertentu yang membuat setiap individu tampil menjadi jawara unggulan. Setiap head count harus unggul dan mempunyai keunggulan. Kalau tidak, sebaiknya di-outsource. Tak ada individu yang berdiri di grey area. McDonald’s menjadi waralaba besar, Chik a Fila menjadi waralaba dengan profit per channel tertinggi, Microsoft dengan market capitalization yang terbesar, Google dengan jasa yang spesifik, eBay dengan komunitas dan teknologi yang tidak lebar, dan Tianshi (Tiens) dengan product kesehatannya, membuktikan bahwa focus akan menjadi andalan di dunia yang datar. How focus are you right now? How many competitors are in your specific products?
Flat, fast, dan focus harus menjadi tiga kata idaman setiap pemimpin. Tanpa itu, organisasi yang dipimpinnya hanya akan menjadi pemain pendamping dan penggembira. Bisa beromzet besar, tetapi tak mampu memberikan impact pada dunia yang datar ini. Tak salah jadi pemain penggembira atau the others dalam peringkat market share. Namun, kalau bisa jadi pemain unggulan, mengapa tidak?
(ya harus dicoba dunk hehehe…...)
Penulis adalah peminat studi kepemimpinan, direktur pemasaran sebuah perusahaan terbuka
Rabu, 22 Maret 2006 09:32 WIB - warta ekonomi.com
December 13, 2007
Approximately a year, I got bleeding when I loosened the bowels.
A couple of time ago, I had piles. The disease made really uncomfortable and helpless. It was very annoying. Approximately a year, I got bleeding when I loosened the bowels. Even the blood was dripping. Also I felt painful when I was sitting and walking. The situation caused me uneble to do may daily activities well. I tried to consult a doctor and got treatment, but the result was not as much as I had expected. My piles did not get better.
One day, I met doctor. He suggested me to try Tiens product. Since I badly wanted to get better, I followed his suggestion. He prescribed me Calsium 1, Double Cellulose, and Chitosan. I consumed them every day in accordance with the suggested dose.
After three consucutive weeks, the result could be traced. I did not get bleeding anymore when defecating; the pain when sitting and wqlking also has gone. To my happiness, the piles never come again. Thank you Tiens! Your products are absolutely the best.
Writter : Pudjo Suprapto, Member of Tiens No:910.74520
Comments Off